Pandemi COVID-19 yang terjadi secara global ini memberikan dampak yang sangat besar secara psikis manusia. Berbagai ketakutan dari pikiran akan kemungkinan terjangkit virus SARS-CoV-2 ini secara tidak langsung membuat kondisi tubuh menjadi menurun karena merasa stress.

Ditulis oleh Handriatno Waseso

Stress merupakan hal lazim yang dialami oleh setiap orang, namun jika stress tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan psikomatis yang mengganggu pikiran dan tubuh manusia. 

Banyak sumber yang menyarankan bahwa disaat situasi seperti ini manusia perlu menjaga diri dari tingkat stress yang tinggi. Tujuannya supaya immune system tetap terjaga dalam kondisi terbaik. Dengan demikian, kita bisa melawan atau bertahan dari serangan virus SARS-CoV-2.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari saran saran tersebut. Namun, fokus utama nasehat-nasehat tersebut lebih banyak terkait mengatasi stress dan dampaknya ketimbang bagaimana lebih efektif dalam mengelola sumber stressnya. Saran-saran untuk meditasi, cukup tidur, cukup minum, berpikir positif, dan lain sebagainya berlimpah di Internet dan forum-forum diskusi atau seminar online. Apakah hal ini cukup efektif? Bisa saja saran yang diberikan justru tidak tepat guna, karena pemasalahan stress setiap manusia berbeda. Masalahnya, mengelola dampak psikologis saja tanpa melihat pada sumber stress-nya hanya akan bermanfaat dalam jangka pendek, atau akan terbatas efektivitasnya.

Saran saran yang terlalu umum membuat banyak orang menjadi lebih resisten terhadap saran-saran semacam itu. Mereka merasa pendekatan tersebut tak lagi banyak membantu ketika sumber-sumber tekanan kehidupan muncul terus menerus. Belum lagi, bila intensitasnya bertambah, khususnya di masa pandemi seperti yang kita alami saat ini. 
Sebagai akibatnya, saran-saran pengelolaan stress yang sebenarnya terbukti bermanfaat dalam jangka pendek-menengah, dipandang sekedar sebagai teori. Ini seringkali terjadi bukan karena rekomendasi-rekomendasinya tidak berhasil diterapkan, tapi karena tidak lagi memadai dalam jangka waktu yang lebih lama. 

 

Jadi bagaimana? Cara yang terbaik adalah dengan pendekatan pengelolaan aspek psikologis harus diikuti juga dengan keterampilan mengelola persoalan (problem management). Awali dengan mengenali sumber-sumber stress Anda dan cari tahu bagaimana mengatasinya. Bukan sekedar mengatasi perasaan sedih, marah, atau kecewa tapi juga bagaimana memecahkan masalah yang menjadi akar dari perasaan-perasaan tersebut.  
Secara garis besar, sumber stress ada dua jenis yaitu stress akibat tuntutan kehidupan sehari-hari dan stress yang terjadi karena perubahan dalam situasi kehidupan. Sementara itu perubahan situasi kehidupan bisa sangat berbeda dari orang ke orang, tuntutan sehari-hari cenderung cukup seragam di antara mereka yang hidup dalam latar belakang budaya yang sama. Beberapa dari itu bahkan berlaku universal. 

Apa saja yang biasanya menjadi sumber stress dalam lingkup tuntutan hidup sehari-hari? Setidaknya ada delapan jenis tuntutan kehidupan dengan perkara spesifiknya masing-masing tergantung konteks kehidupan setiap orang. Berikut kedelapan jenis/tipe sumber stress tersebut beserta contohnya:

TIPE SUMBER STRESS CONTOH
Urusan rumah tangga Bersih-bersih rumah, membeli sembako, listrik, air, dll.
Urusan kesehatan  Penyakit, menjaga kesehatan-kebersihan, efek samping medikasi rutin, dll. 
Tekanan keterbatasan waktu Waktu yang tidak cukup untuk mengerjakan semua yang harus dikerjakan, waktu perjalanan ke tempat kerja pulang-pergi, dll. 
Kondisi lingkungan Kebisingan, tingkat kejahatan lingkungan tempat tinggal, jarak antar rumah, debu, dll. 
Tuntutan urusan keuangan Hutang, cicilan, kebutuhan pembayaran bulanan, pengeluaran tak terduga, dll. 
Urusan batin/kejiwaan/hati Rasa kesepian, duka-cita, rindu, ketidakpuasan, kekecewaan, dll. 
Urusan pekerjaan Ketidakpuasan kerja, konflik dengan atasan, rasa tidak suka pada pekerjaan, masalah dengan rekan kerja, dll. 
Kekhawatiran masa depan Takut kehilangan pekerjaan, pajak, gagal investasi, kondisi perekonomian negara yang mengancam perekonomian, kehilangan pasangan, dll. Biasanya terkait juga dengan kecemasan. 


Setelah mengenali sumber-sumber stress, langkah berikutnya, sebagaimana telah disebutkan di atas, kita perlu mengenali juga sumber solusinya atau sering disebut sebagai sumber daya (resources). Menurut CORT atau Conservation of Resources Theory, stress seringkali muncul karena tiga tipe keadaan:

  1. Rasa terancam kehilangan sumber daya untuk menjalankan kehidupan.
  2. Kehilangan sumber daya kehidupan.
  3. Kegagalan mendapatkan sumber daya kehidupan. 

Yang termasuk tipe sumber daya kehidupan adalah:

  1. Barang/benda apapun yang dipandang bermanfaat dalam menjalankan dan mendukung kehidupan. Contoh: komputer, mobil, rumah, dll. 
  2. Kondisi yang secara umum menjadi basis kehidupan yang dijalankan. Contoh: pernikahan, memiliki pekerjaan, kesehatan, lokasi tempat tinggal, portfolio investasi, dukungan sosial dari keluarga atau teman, dll. 
  3. Sumber daya kepribadian berupa kemampuan dan karakter yang dibutuhkan untuk mendapat yang terbaik dari kehidupan. Contoh: ketegaran, kepercayaan diri, keterampilan, keberanian, kompetensi, dll. 
  4. Sumber daya penggerak (energi) langsung kehidupan, yang tanpanya kehidupan menjadi tidak mungkin atau sulit dijalankan. Sumber daya ini juga bermanfaat untuk menghasilkan sumber daya lain. Contoh: uang, makanan, ilmu pengetahuan, dll.

Upaya mengelola stress dari sumber stress dengan menggunakan sumber daya dapat dimulai dengan membuat matriks perencanaan tindakan yang melibatkan tipe sumber stress, tipe keadaan dan tipe sumber daya dalam contoh berikut ini:

Permasalahan Spesifik yang Dialami Jenis Sumber Stress Jenis Keadaan Stress Sumber Daya yang (masih) Dimiliki dan akan Digunakan Tindakan
Suami/istri baru saja meninggal dunia karena COVID-19.
  • Urusan keuangan: berkurang penghasilan keluarga.
  • Urusan batin: sedih, kehilangan, kesepian.
  • Kekhawatiran masa depan: bagaimana menjalani kebiasaan sehari-hari setelah kematian pasangan.
Kehilangan sumber daya kehidupan.
  • Barang/benda: telepon selular, kendaraan, komputer, rumah.
  • Kondisi: lingkaran pertemanan, dukungan sosial dari anak dan kerabat. 
  • Sumber daya kepribadian: cepat ikhlas
  • Sumber daya penggerak: tabungan dana darurat, pengetahuan bisnis/usaha kecil, pengetahuan agama. 
  • Memperbanyak menghubungi orang-oran terdekat lewat telepon selular.
  • Menuliskan apa yang dialami setelah ditinggal wafat di blog.
  • Sering berkunjung ke rumah teman meski jaraknya jauh. 
  • Mengundang teman dan kerabat untuk makan siang bersama di rumah.
  • Membentuk pikiran religius yang membantu menerima kehilangan pasangan.
  • Mencoba membuat usaha kecil online dengan modal dari tabungan yang ada.

Bagaimana pun, dalam membuat dan menganalisis matriks di atas memerlukan kejernihan pemikiran dan kelapangan hati agar dapat jadi panduan dalam mengatasi stress dari asalnya dan dengan sumber daya yang dimiliki. Seseorang tidak dapat membuat matriks di atas di saat hati masih belum cukup tenang dan pikiran masih kacau. Di sini, saran-saran yang terkait mengelola dinamika psikologis dalam jangka pendek-menengah menemukan relevansinya untuk diterapkan. 


Bila Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana mengelola stress baik pada aspek psikologis maupun aspek tindakan untuk menyelesaikan permasalahan yang menjadi sumber stress, Anda dapat menghubungi MDF-PI di mdfpi@mdf.nl untuk informasi terkait pelatihan dan coaching untuk stress management. 

Unduh jadwal pelatihan MDF Training & Consultancy tahun 2020 disini.